Raih Perdamain Urai Pertikaian

Raih Perdamaian Urai Pertikaian

(Begitu indah damai, hidup tanpa permusuhan, pertentangan dan percekcokan. Namun, jalan kehidupan tak selamanya lempang lagi mulus. Niscaya ada konflik dan ketidakcocokan yang menyerta. Lalu apa yang mesti kita perbuat ketika disharmonis menerpa?-red)

Mendamaikan di antara manusia artinya menghilangkan segala macam bentuk perpecahan dan perselisihan di antara mereka. Hal itu dapat dilakukan dengan meneliti sebab-sebab perselisihan kemudian berusaha menuntaskanya dengan cara-cara yang syar’i.

Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda, “Setiap persendian bani adam harus dikeluarkan sedekahnya.”

Rasulullah shallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa salah satu bentuk sedekah itu adalah berlaku adil terhadap kedua belah pihak yang berselisih. Jika engkau melihat dua orang sedang berselisih lalu engkau selesaikan perselisihan tersebut dengan cara yang adil maka itu merupakan bentuk sedekahmu untuk dirimu. Boleh jadi perselisihan itu terjadi antara antara suami istri. Menyelesaikan perselisihan antara keduanya merupakan sebuah kewajiban. Allah berfirman, “Dan jika seseorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir…” (An Nisa’: 128)

Jika terjadi pertenfkaran di antara sepasang suami istri maka hendaklah keduanya menyelesaikan pertengkaran tersebut. Misalnya suami mengakah dengan melepaskan haknya. Atau istri yang mengalah dengan melepaskan sebagian haknya. Dengan demikian perdamaian akan tercipta. Jika keduanya tidak mampu menyelsaikan pertengkaran itu hendaklah qadhi (hakim-red) memanggil utusan dari kedua belah pihak sebagaimana disebutkan oleh Allah, “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seseorang hakam dari  keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kedapa suami-istri itu….” (An Nisa:35)

Kedua utusan itu dikirim oleh qadhi untuk menyelidik sebab-sebab pertengkaran antara keduanya untuk kemudian mendamaikan antara keduanya menurut mashalahat yang ada.

kita tidak boleh membiarkan rumah tangga Muslim berantakan dirundung pertengkaran atau pertikaian. Wajib hukumnya mengadakan perbaikan hubungan antara keduanya. Demikian pula proses ishlah (perbaikan) ini wajib dilakukan bila terjadi pertentangan di antara kaum muslimin, di antara satu kabilah dengan kabilah lainnya. Atau antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Allah berfirman. “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 9-10)

Temukan Latar Belakang

Jika terjadi pertikaian diantara dua kelompok Muslim dan pertikaian itu telah menjurus kepada pertumpahan darah maka tidaklah boleh kaum muslimin lainnya berpangku tangan membiarkannya. Bahkan mereka harus segera menyelesaikan pertikaian itu. Caranya dengan meneliti sebab-sebab pertikaian yang menyebabkan mereka saling menumpahkan darah untuk kemudian segera menuntaskannya agar tidak terjadi pertumpahan darah di antara kaum muslimin. Jika masalahnya selesai maka itulah yang diharapkan  walhamdulillah. Adapun jika salah satu dari kedua belah pihak menolak perdamaian, maka kaum muslimin lainnya wajib bergabung dengan pihak yang terzhalimi dalam melawan pihak yang zhalim, sebagaimana dikatakan dalam ayat, “Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu.”

Al-Baghyi maknanya adalah perbuatan aniaya. Allah berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (An Nisa: 114)

Ayat di atas mendorong kita supaya mengupayakan Ishlah (perbaikan) di mana dan kapan saja antara sesama kaum muslimin atas sepasang suami istri ataupun antara kelompok-kelompok kaum muslimin. Agar persatuan Islam, kekuatan kaum Muslimin dan persaudaraan seiman tetap utuh sebagaimana yang dikehendaki Allah. Allah telah melarang kita terhadapa segala penyebab terjadinya permusuhan.

Beberapa Hal yang Merusak Perdamaian

1. Mengolok-ngolok Sesama Muslim

Mengolok-ngolok orang lain khususnya kaum muslimin dapat menumbuhkan benih permusuhan. Seorang Muslim tidak boleh mengolok-ngolok Muslim lainnya, karena kedudukannya sebagai seorang Muslim di sisi Allah sangatlah agung. Mengolok-ngolok merupakan penyebab permusuhan, maka dari itu jauhilah sikap seperti itu. Janganlah engkau mengolok-ngolok orang lain.

Allah berfirman,

“Kecelakaan besarlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,”  (Al-Humazah: 1)

Allah berfirman,

“Hai orang-orang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-ngolok)…” (Al-Hujurat: 11)

2. Memberi Gelar Buruk

Allah berfirman,

“… dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk…” (Al-Hujurat: 11)

Yaitu janganlah kamu melecehkan orang lain dengan gelar-gelar buruk. Misalnya mengatakan: si pincang, si juling, si miskin, sikap seperti itu tidak dibenarkan. Kecuali bila ia dikenal dengan panggilan tersebut dan tidak terkesan sebagai pelecehan jika gelar itu terkesan sebagai pelecehan maka tidaklah mengapa.

3. Prasangka Buruk

Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka….”  (Al-Hujurat: 12)

Sebab persangkaan yang buruk merupakan penyebab terjadinya permusuhan. Kita tidak boleh berburuk sangka kepada kaum muslimin. Sebab pada asalnya kaum muslimin itu baik dan terpercaya. Sebagian orang berburuk sangka kepada saudaranya sesama Muslim lalu menjatuhkan vonis hukum berdasarkan persangkaan buruknya itu. Ia memutuskan hubungan dengan saudaranya sesama Muslim disebabkan prasangka buruk.

4. Menggunjing

Diantara penyebab terjadinya permusuhan adalah ghibah. Yaitu menyebut saudaramu dengan sebutan yang tidak disukainya.

Allah berfirman,

“… dan janganlah kamu mencari-cari  kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebagian yang lain…” (Al-Hujuran: 12)

Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Ghibah adalah menyebut saudaramu dengan sebutan yang tidak disukainya”

Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana bila yang disebutkan itu memang ada pada dirinya? Rasulullah menjawab: “Jika benar ada maka engkau telah mengghibahinya dan jika tidak ada maka engkau telah mengadakan kedustaan atasnya.”

Kemudian Allah menggambarkan ghibah dengan sejelek-jeleknya gambaran. Orang yang menggibahi saudaranya, maka dirinya itu seperti memakan bangkai orang mati. Sanggupkah ia memakan bangkai orang mati?

5. Ketakaburan dan Sikap Ujub

Takabur dan ujub adalah dua karakter yang tercela, yang dengan kedua karakter itu, banyak pribadi mukmin yang menyombongkan diri, maka apalagi para ulama di antara mereka? Allah juga mengecam sikap takabur dalam banyak ayat dalm kitab-Nya yang mulia. Allah berfirman,

“Aku memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak berfirman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk mereka tak mau menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.” (Al-A’raf: 146)

Allah berfirman, mengajak bicara iblis – semoga ia dirajam-,

“Turunkanlah kamu dari jannah itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina…” (Al-A’raf: 13)

Hadist-hadist Nabi shallahu alaihi wa sallam dalam persolan tersebut juga sangat banyak, bahkan melimpah, disini kami sitirkan sebagian diantaranya:

Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk Surga orang yang dalam hatinya terdapat ketakaburan , meski hanya sebiji dzarrah. Seorang lelaki bertanya, ‘Ada seorang pria yang suka mengenakan pakaian bagus dan sandal bagus, bagaimana?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Ketakutan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda, “Di Hari Kiamat, Allah tidak akan memandang orang yang melabuhkan kainnya karena sombong.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

(Al-Ustadz Abu Umar Basyir)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*