Serba serbi menangis kaca mata islam

menangis karena Allah

Menangislah !!!

Menangis merupakan perbuatan yang setiap manusia pernah melakukannya. Menangis malah merupakan perbuatan awal hampir setiap manusia saat dilahirkan. Menangis memang telah menjadi bagian hidup dari manusia.

Jika kita yabg sudah sebesar ini masih sering menangis, mungkin kita akan dikatakan sebagai anak cengeng. Betulkah selalu begitu ? Tidak juga. Ada menangis yang di perbolehkan. Bahkan ada pula menangis yang disunnahkan. Tapi, memang ada juga mengangis yang tercela dan seharusnya tidak kamu lakukan.

 

Mengapa menangis ?

Mengapa manusia bisa menangis? Sebabnya macam-macam. Karena masak pun kita bisa menangis. Betul, jika kita memasak pakai bawang merah atau putih. Ada sebab-sebab menangis yang umum, yang secara tabiat mayoritas manusia kan menangis jika menemui sebab tersebut. Ada pula sebab-sebab menangis yang khusus. Hanya orang tertentu saja yang akan menangis jika menemui sebab itu. Sekain pada orang-orang khusus tersbut, sebab tersebut akan dilalaikan.

Contoh menangis secara tabiat adalah menangis sebagai respon rasa sakit. Ketika tubuh seseorang sakit atau terluka dan ia tak mampu untuk menahan ras sakit itu, maka tangisan tak dapat dibendung.

Kesedihban juga merupakan pemicu tangisn secara umum. Ketika kucing kesayangan kamu mati, kamu akan sedih dan menangis. Maka ini adalah tangisan secara tabiat yang mayoritas manyusia akan melakukannya. Ini terjadi juga ketika kehilangan seseorang yang berarti atau sesuatu yang berharga, Ketika Ibrahim, putra Rasulullah shallahu alaihi wa sallam meninggal, Rasulullah menitikkan air mata. Abdurrahman bin Auf kaget dan berkata, “Engkau juga menganis, Wahai Rasulullah?” Nabi shallahu alaihi wa sallam menjawab, “Air mata berlinang, hati terkoyak-koyak, namun kami tidak akan berkata kecuali yang diridhai Allah. Wahai anakku Ibrahim, sungguh kami sedih atas perpisahan ini.”

Selain sebab-sebab yang umum diatas, ada juga sebab-sebab khusus yang tidak semua orang akan terpicu untuk menangisinya. Sebab-sebab ini adalah menangis karena Allah. Termasuk di dalamnya adalah menangisi dosa-dosa atau menangis karena takut siksaan Allah. Tak semua orang mampu menangis dengan sebab-sebab ini walaupun semua orang mendapati dirinya mempunyai dosa.

 

Terpuji atau Tercela?

Saat kita menangis tercelakah tangisan kita atau terpuji ?

Menangis bisa terpuji, bisa tercela, bisa pula diantara itu. Hal ini tergantung alasan kita menangis, juga ukuran alasan kita untuk menangis tersebut. Bisa pula tergantung pada bagaimana kita menangis.

Kesedihan adalah salah satu alasan untuk menangis. Menangis karean sedih seringnya terletak di antara pujian dan celaan. Artinya adalah wajar orang menangis karena sedih. Namun menangis karena sedih bisa pula menjadi tercela. Masalahnya, apa yang membuat hati kita sedih? Menangis karena putus pacaran adalah tercela, Karena hati masih ada keinginan untuk mempunyai hubungan yang diharamkan. Menangis yang overdosis bisa tercela juga. Misalnya menangis berlebihan karena sedih akibta ditinggalkan orang yang dicintai untuk selamanya. Menangisi kematian secara berlebihan merupakan pintu untuk menuju meratapi kematian. Jika menangis sudah disertai dengan menarik-narik rambut, memukul-mukul kepala, menampar-nampar pipi maka itu adalah meratap. Dan itu adalah tercela.

Menangis karena Allah tentu merupakan menangis yang terpuji. Ini mencakup mengisi dosa-dosa yang pernah ia lakukan, menangis karena mendengar ayat-ayat Allah atau menangis karena merasa tak aman dari siksa Allah. Ini adalah tangisan para nabi dan rasul.

 

Menangis yang Terpuji

Menangis yang terpuji adalah menangis karena Allah. Menangis yang seperti ini adalah sunnah para nabi dan rasul, serta para orang-orang shalih. Allah menyebut-nyebut mereka yang mampu menangis seperti ini dalam firman-firman-Nya di Al-Qur’an.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh dan dari keturunan Ibrahim dan Israil dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)

Adapun Rasulullah shallahu alaihi wa sallam maka beliau tidak berbeda dengan para nabi dan rasul terdahulu. Beliau mudah menangis jika membaca ayat Al-Qur’an atau ketika mendengarnya.

Dari Ibnu Mas’ud ia berkata, “Telah bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepadaku, ‘Bacakanlah Al-Qur’an untukku.’  ‘Wahai Rasulullah! Apakah aku haru membaca Al-Qur’an untukmu, sedangkan Al-Qur’an itu diturunkan kepadamu?’ Beliau bersabda, ‘Aku sangat menyukai mendengarkan Al-Qur’an dari orang lain’.”  Ibnu Mas’ud berkata, “Maka aku membacakan Al-Qur’an surat An-Nisaa untuk Rasul, hingga aku sampai pada ayat, ‘‘Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).’ (An-Nisaa: 41). Kemudian Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Cukup sampai di sini.’ Aku menoleh kepada Rasul shallahu alaihi wa sallam, ternyata kedua matanya mengucurkan air mata.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Menangis karena Allah bukan hanya praktek orang-orang shalih. Menangis karena Allah adalah sebuah keutamaan yang dianjurkan.

Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Ada tujuh golongan yang Allah akan menaunginya pada saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya …. Orang yang mengingat Allah ketika sendirian sehingga bercucuran air matanya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Menangis karena Allah bisa jadi karena mengingat kebesaran Allah dan kecilnya diri sendiri, mengingat banyaknya dosa serta kurangnya amalan baik atau mengingat besarnya siksa Allah. Pada orang-orang yang shalih, menangis secara tabiat. Begitu mengingat Allah, otomatis ia akan menangis. Pada orang-orang yang keshalihannya di bawah mereka, menangis karena Allah adalah sesuatu yang terjadi karena diusahakan.

Apakah kita pernah menangis karena Allah ? Yang mampu menjawab adalah diri sendiri. Di tengah hiruk-pikuk masyarakat pecinta dunia dan penikmat syahwat, menangis karena ALllah ada suatu nikamt dari Allah yang begitu besar. Jika kamu sudah bisa menangis karena Allah, janganlah merasa wah dengan hal itu, karena itu semata-mata pemberian Allah. Jika kamu belum bisa, maka berusahalah menangis. Abdulah bin Amr berkata, “Menangislah!! jika tidak bisa, maka berusahalah untuk menangis. Jika kalian mengetahui ilmu yang sebenarnya nisacara salah seorang dari kalian akan shalat hingga patah punggungnua. Dan ia akan menangis hingga suaranya terputus.” (Riwayat Al-Hakim)

 

sumber : elfata

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*