Biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

Biografi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

Biografi

Kita sering mendengar beliau… Tapi tahukah anda siapakah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ? Apa peran beliau di Agama Islam ini ? Siapakah guru beliau ?

  1. Nasab dan Pertumbuhan Beliau

Beliau adalah Asy-Syaikh Al-Imam Al-Mujaddid Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barra bin Musyrif At-Tamimi.

Kelahiran Beliau

Beliau rahimahullah di lahirkan pada tahun 1115 dari Hijriyah Nabi shallallahu alaihi wa sallam di kota Uyainah yang masih  masuk wilayah Najd, sebelah barat dari kota Riyadh, jaraknya dengan kota Riyadh sekitar perjalanan 70 km.

Pertumbuhan Beliau

Beliau tumbuh dan besar di Negeri Uyainah dan menimba ilmu disana. Beliau hafal Al-Quran sebelum berusia 10 tahun. Beliau seorang jenius dan cepat memahami. Di bawah asuhan bapaknya sendiri beliau belajar Fikh Mazhab Hambali, Aqidah, Tafsir, Hadits, dan beberapa ilmu syar’i serta bahasa. Beliau memberikan perhatian lebih terhadap kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim rahimahumullah, sehingga beliau terpengaruh oleh keduanya dan berjalan diatas jalan mereka dalam mementingkan masalah aqidah yang benar, mendakwahkannya, membela dan memperingatkan dari perbuatan menyekutukan Allah, bid’ah serta khurafat.

  1. Perjalanan Beliau dalam Menuntut Ilmu

Beliau mengadakan perjalanan menuju Mekkah untuk menunuaikan ibadah Haji dan mencari bekal Ilmu Syar’i. Kemudian beliau pergi menuju Madinah Nabawiyyah dan disana beliau bertemu dengan dua syaikh yang alim lagi mulia, yang mana keduanya mempunyai pengaruh terbesar dalam kehidupan beliau, mereka adalah Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif An-Najdi dan Asy-Syaikh Muhammad Hayah bin Ibrahim As-Sindi. Lalu beliau melanjutkan perjalanan ke Bashrah dan beliau mendengarkan Hadits, Fikih dan membacakan Nahwu kepada gurunya sampai menguasainya. Kemudian beliau rihlah ke daerah Ahsa’ dan bertemu dengan Syaikh Ahsa’, di antaranya Abdullah bin Abdul Lathif, seorang hakim.

  1. Kiprah Beliau dalam Menyerukan Tauhid

Beliau pulang ke daerah Huraimala’, karena ayah beliau dulunya seorang hakim di Uyainah, lantas terjadi pertentangan antara beliau dengan pemimpin Uyainah sehingga beliau pindah ke Huraimala’ pada tahun 1139 dan menetap disana menyeru ke Tauhid dan memperingatkan dari kesyirikan sampai ayah beliau meninggal pada tahun 1153 H.

Lantas sebagaian orang jahat melakukan konspirasi untuk mencelakakan beliau disebabkan beliau senantiasa mengingkari kefasikan dan kejahatan mereka, sampai-sampai mereka hendak membunuh beliau.

Kemudian beliau memberitahukan perihal mereka kepada beberapa orang sehingga mereka lari. Lalu setelah konspirasi tersebut berhasil menyudutkan Asy-Syaikh, beliau pun pindah ke Uyainah dan beliau menawarkan dakwahnya kepada pemimpin Uyainah yang ketika itu pemimpinnya adalah Utsman bin Ma’mar.

Pimpinan Uyainah pun menyambut beliau, membantu, mendukungnya dan bersama beliau menghancurkan kubah Zaid bin Al-Khattab dan menghancurkan beberapa kubah serta kubur yang dibangun, bahkan bersama beliau merajam wanita yang datang mengaku telah berzina padahal dia muhshan (telah menikah).

Ketika beliau menghancurkan kubah dan melakukan rajam dalam masalah zina, maka menjadi masyhurlah perkara beliau dan tersiarlah reputasi baik beliau. Masyarakat pun mendengar tentang beliau sehingga semakin besarlah kekuatan beliau.

Kemudian, sampailah berita perbuatan Asy-Syaikh menghancurkan kubah dan kubur serta penegakan hukum had kepada pemerintah Ahsa’ dan sekutu-sekutunya. Hal ini membuat pemerintah Ahsa’ merasa khawatir terhadap kerajaannya dan memerintahkan kepada Utsman bin Ma’mar untuk membunuh Asy-Syaikh atau mengusirnya dari Uyainah. Jika tidak dilakukan, maka akan diputus upeti darinya. Maka Utsman bin Ma’mar akhirnya menerima desakan ini dan memerintahkan Asy-Syaikh agar keluar dari Uyainah dan beliaupun keluar darinya menuju Dir’iyyah. Hal itu terjadi pada tahun 1158 H.

Di Dir’iyyah beliau singgah sebagai tamu Muhammad bin Suwailim Al-Uraini, lantas pemimpin Dir’iyyah Muhammad bin Su’ud mengetahui akan kedatangan Asy-Syaikh adalah isteri Ibn Su’ud sendiri.

Beberapa orang shalih mendatangi wanita tersebut dan berkata kepadanya,

Beritahukan kepada Muhammad (Ibn Su’ud -ed) tentang orang ini! Semangatilah dia untuk mau membelanya dan beri motivasi kepadanya agar mau mendukung serta membantunya.”

Istri Muhammad adalah seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa. Ketika sang Amir Muhammad bin Su’ud pemimpin Dir’iyyah dan sekitarnya masuk menemui istrinya, istrinya pun berkata kepadanya,

Bergembiralah dengan ghanimah (anugerah) yang besar ini. Ini adalah ghanimah yang Allah kirimkan kepadamu, seorang lelaki yang menyeru kepada agama Allah, menyeru kepada Kitabullah, menyeru kepada sunnah Rasulullah. Sungguh betapa ghanimah yang begitu besar. Bersegeralah menerimanya, bersegeralah menolongnya dan jangan kamu berhenti saja dalam hal itu selamanya.”

Sang amir pun menerima saran istrinya dan sungguh bagus apa yang dilakukannya rahimahullah. Amir pergi ke kediaman Muhammad bin Suwailim Al-Uraini dan berkata kepada Asy-Syaikh,

Bergembiralah dengan pertolongan dan bergembiralah dengan keamanan.

Maka Asy-Syaikh berkata kepadanya,

Dan anda juga bergembiralah dengan pertolongan, bergembiralah kekokohan dan kesudahan yang terpuji. Ini adalah agama Allah, siapa yang menolongnya niscaya Allah akan menolongnya. Siapa yang mendukungnya niscaya Allah akan mendukungnya.”

Kemudian Amir berkata kepada Asy-Syaikh,

Aku akan membaiatmu di atas agama Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah. Akan tetapi aku khawatir jika kami telah mendukungmu dan membantumu lantas Allah memenangkanmu atas musuh-musuh Islam lantas engkau menginginkan selain bumi kami dan berpindah dari kami ke tempat lain.”

Maka Asy-Syaikh menanggapinya,

Bentangkan tanganmu, aku akan membaiatmu bahwa darah dibalas dengan darah, kehancuran dibalas dengan kehancuran dan aku membaiatmu untuk tetap tinggal bersama kalian dan aku tidak akan keluar dari negerimu selamanya.”

Demikianlah, Asy-Syaikh tinggal di Dir’iyyah dalam keadaan dihormati dan didukung sepenuhnya, menyeruh kepada Tauhid dan memperingatkan dari syirik. Orang-orang pun berdatangan, baik secara berkelompok maupun individu. Beliau mengajarkan aqidah, Al-Qur’an Al-Karim, tafsir, fikih, hadits, musthalah hadits, berbagai ilmu bahasa Arab dan tarikh.

Beliau biasa berkirim surat dengan para ulama dan umara dari berbagai negeri dan penjuru, menyeru mereka kepada Allah sehingga tersebarlah dakwah beliau. Setelah itu semakin banyaklah kedengkian, mereka lantas berhimpun dan bersatu menentang beliau. Maka amir mengobarkan jihad dengan pedang dan tombak, dan peristiwa itu terjadi pada tahun 1158 H.

Asy-Syaikh membantunya sampai akhirnya dakwah beliau tersebar menyeluruh sampai ke penjuru alam dan gaungnya masih senantiasa bergema sampai hari ini.

  1. Sanjungan Para Ulama terhadap Beliau

Para ulama betul-betul mengenal Imam ini dan memberikan pujian kepadanya, bahkan mereka sampai menulis biografi tentangnya. Di antara mereka adalah Asy-Syaikh Husain bin Ghanam. Beliau banyak menulis tentang Asy-Syaikh, memujinya dan menyebutkan kisah perjalanan hidupnya dalam kitab Raudhatul Anzhar wal Afham.

Di antara mereka juga Asy-Syaikh Utsman bin Bisyr, yang memujinya dalam kitab ‘Unwanul Majdi fi Tarikhi Majdin, dan Asy-Syaikh Mas’ud An-Nadqi menulis tentang beliau dalam kitab yang diberi judul Al-Mushlih Al-Mazhlum.

Di antara yang memuji beliau juga orang alimnya Yaman yaitu Muhammad bin Isma’il Al-Amir Ash-Shan’ani dalam sebuah qoshidah panjang yang awalnya:

Salam bagi Najd dan orang yang tinggal di Najd

Meskipun salamku dari kejauhan ini tiada berguna

Sungguh aku telah mendatangkan siraman kehidupan dari kaki bukit Shan’a

Dia didik dan dia hidupkan dengan tertawanya guntur

Aku berjalan seperti orang yang digerakkan mencari angin, jika kuberjalan

Wahai putera Najd kapan engkau akan beranjak dari Najd

Perjalananmu dan parapenduduk Najd mengingatkanku akan Najd

Sungguh sepak terjangmu menjadikanku semakin cinta

Selamanya, dan bertanyalah kepadaku tentang seorang alim yang singgah di negeri Najd

Dengannya terpetunjuk orang yang dulunya sesat dari jalan yang lurus

Muhammad yang memberikan petunjuk kepada sunnah Ahmad

Alangkah indahnya yang memberi petunjuk dan alangkah indahnya yang diberi petunjuk.”

Sampai beliau berkata,

Sungguh telah datang berita darinya bahwa dia mengembalikan kepada kita syariat yang mulia dengan apa yang ditampakkannya

Dan dia sebarkan secara terang-terangan apa yang disembunyikan oleh setiap orang bodoh

Dan ahli bid’ah, sehingga sesuailah dengan apa yang aku punya

Dia dirikan tiang-tiang syari’at yang dulunya roboh

Monumen-monumen yang padanya manusia tersesat dari petunjuk

Dengannya mereka mengembalikan makna Suwa dan yang semisalnya

Yaghuts dan Wadd, betapa jelek Wadd itu

Sungguh mereka menyebut-nyebut namanya ketika terjadi kesusahan

Sebagaimana seorang yang terpepet memanggil Dzat tempat bergantung lagi Maha Esa

Betapa banyak sembelihan yang mereka persembahkan di pelatarannya disembelih untuk selain Allah secara terang-terangan disengaja betapa banyak orang yang thawaf di sekitar kubur sambil mencium dan mengusap pojok-pojoknya dengan tangan.”

(Diwan Ash-Shan’ani, hal 128-129)

Di antara ulama yang memuji beliau juga Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani tokoh hakim di wilayah Yaman sebagaimana dalam kitabnya Al-Badru Ath-Thali’ tentang biografi Ghalib bin Musa’id sang amir Mekkah. Beliau berkata dalam komentarnya terhadap sebagian risalah Asy-Syaikh,

Itu merupakan risalah-risalah yang bagus yang memuat dalil-dalil Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan bahwa yang menjawabnya merupakan ulama peneliti yang benar-benar paham terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah.”

Kemudian beliau melantunkan sajak-sajak kesedihan setelah wafatnya syaikh. Al-‘Allamah Ibnu Badran berkata tentang beliau dalam kitabnya Al-Madkhal hal. 447,

Seorang alim yang komitmen terhadap atsar dan imam yang besar, Muhammad bin Abdul Wahhab. Beliau melakukan rihlah untuk menuntut ilmu dan para ahli hadits di masanya memberikan ijazah kepada beliau untuk meriwayatkan kitab-kitab hadits dan yang lainnya. Ketika kantong penyimpanannya telah penuh dari atsar dan ilmu sunnah, serta menguasai mazhab Ahmad, beliau mulai membela al-haq dan memerangi bid’ah, serta menentang ajaran yang disusupkan oleh orang- orang bodoh ke dalam agama ini.”

Adapun ulama masa kini yang memberikan sanjungan kepada beliau di antaranya Asy-Syaikh Ibnu Baaz, Asy- Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dan guru kami Al-Wadi’i rahimahumullah. Dan di sini aku senang menyebutkan sebagian pujian guruku Al-Imam Al-Wadi’i terhadap Asy-Syaikh Al- Imam Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah ditanya -sebagaimana dalam Al- Mushara’ah hal. 400- tentang dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka beliau berkata,

Adapun dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, sungguh merupakan dakwah yang diberkahi. Dan jika engkau membaca kitab beliau Kitab At-Tauhid, maka engkau akan dapati beliau berdalil dengan Al-Qur’an dan hadits nabi. Sama saja apakah dalam bab menggantungkan jimat-jimat dan rajah-rajah, bab berdoa kepada selain Allah, ataupun dalam bab peringatan keras dari membangun kubur. Engkau dapati beliau berdalil dengan ayat Al-Qur’an atau hadits nabi, sungguh Allah telah memberikan manfaat kepada Islam dan muslimin dengan sebab dakwah beliau…”.

Sampai beliau berkata,

“Maksudnya bahwa dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dirasakan manfaatnya oleh kaum muslimin. Betapa banyak kaum muslimin yang Allah selamatkan dari kesesatan, bid’ah dan khurafat dengan sebab kitab-kitab beliau rahimahullah”.

Beliau berkata pada hal 402,

Siapa yang ingin mengetahui dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab maka aku nasehatkan untuk membaca Ad-Durar As-Saniyah sehingga seakan ia duduk mendampingi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kami nasihatkan sebelumnya untuk membaca kitab-kitab beliau dan setelah itu kami nasihatkan agar membaca Ad-Durar As-Saniyyah agar engkau ketahui risalah-risalah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Sungguh beliau adalah seorang yang melakukan perbaikan, tetapi banyak difitnah.”

Beliau berkata pada hal 410,

“Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah imam yang memberi petunjuk”.

Juga pada hal 412 beliau ditanya tentang penyebutan kata Syaikhul Islam bagi Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab apakah itu berlebihan atau memang berhak beliau menyandangnya? Maka beliau menjawab,

Nampaknya beliau memang berhak menyandangnya. Sungguh Allah telah memberikan manfaat kebaikan yang banyak dengan sebab dakwahnya. Allah berkahi dakwahnya dan kaum muslimin mengambil manfaat darinya. Wallahul musta’an (Dan Allah-lah Tempat Meminta Pertolongan –ed.)”

  1. Guru-guru Beliau

  • Ayah beliau sendiri Asy-Syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman
  • Asy-Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif, yaitu ayah Asy-Syaikh Ibrahim bin Abdullah pengarang kitab Al-‘Adzbu Al-Faidh fi ‘Ilmil Faraidh.
  • Asy-Syaikh Muhammad Hayah bin Ibrahim As- Sindi
  • Asy-Syaikh Muhammad Al-Majmu’i Al-Bashri
  • Asy-Syaikh Musnid Abdullah bin Salim Al- Bashri
  • Asy-Syaikh Abdul Lathif Al-Afaliqi Al-Ahsa’i
  1. Murid-murid Beliau

  • Al-Imam Abdul Aziz bin Su’ud
  • Al-Amir Su’ud bin Abdul Aziz bin Sulaiman
  • Putra-putra beliau sendiri, Asy-Syaikh Husain, Asy-Syaikh Ali, Asy-Syaikh Abdullah dan Asy- Syaikh Ibrahim.
  • Cucu beliau Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan, penulis kitab Fathul Majid
  • Asy-Syaikh Muhammad bin Nashir bin Ma’mar
  • Asy-Syaikh Abdullah Al-Hushain
  • Asy-Syaikh Husain bin Ghannam
  1. Karya-karya Beliau

  • Kitabut Tauhid
  • Ushulul Iman
  • Kasyfusy Syubhat
  • Tsalatsatul Ushul
  • Mufidul Mustafid fi Kufri Tarikit Tauhid
  • Mukhtashar Fathul Bari
  • Mukhtashar Zadul Ma’ad
  • Masa’il Jahiliyyah
  • Fadhailush Shalah
  • Kitabul Istimbath
  • Risalah Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah, yaitu risalah ini.
  • Majmu’atul Hadits dan sebagian besarnya telah tercetak dalam kumpulan karya-karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada tahun 1398 H di Riyadh di bawah pengawasan Jami’ah Al Imam Muhammad bin Su’ud.
  1. Wafat Beliau

Beliau rahimahullah wafat pada hari Jum’at di akhir bulan Dzulqa’dah tahun 1206 H pada umur 71 tahun setelah melakukan jihad yang panjang, berdakwah menyerukan kebaikan, mengadakan perbaikan, menyebarkan ilmu dan pengajaran. Kemudian beliau dimakamkan di pekuburan Dir’iyyah, semoga rahmat Allah terlimpah atasnya. Banyak dari para penyair yang melantunkan bait-bait kesedihannya, di antara mereka adalah:

  • Asy-Syaukani dalam qasidahnya yang panjang, di antara ucapannya,

Musibah menimpa kalbuku, berkobar kegundahanku

Dia mengenai titik mematikanku dengan anak panah yang sangat menyakitkan

Dunia tertimpa musibah dengan kepergiannya, menjadi berdebu wajahnya

Dan meninggi bendera-bendera suatu kaum yang dulunya rendah

Sungguh telah wafat gunungnya ilmu, poros penggiling tertinggi

Dan pusat peredaran orang-orang terkemuka lagi mulia

Imamnya petunjuk, penghapus pembungkam kezhaliman kebodohan,

Dan penghilang dahaga dari luapan ilmu…

Muhammad pemilik kemuliaan yang begitu mulia apa yang telah dicapainya

Dan agung kedudukannya untuk bisa disusul oleh orang yang menghambatnya

Sungguh Najd menjadi bercahaya dengan pancaran sinarnya

Dan tegaklah tempat-tempat petunjuk dengan dalil-dalilnya

Tertimpa musibah dengan kepergiannya, terlepas nafas terakhir ruhku

Dan untuk memikul beban ini, terasa lelah punggung bawah dan punggung atasku

Sadarlah wahai orang yang mencela Asy-Syaikh apa yang engkau cela darinya

Sungguh engkau telah mencela suatu kebenaran

Lantas engkau pergi membawa kebatilan

Sadarlah kalian, sadarlah dia bukannya seorang penyeru

Kepada agama nenek moyang dan kabilahnya

Dia hanya menyeru kepada Kitabullah dan sunnah yang

Datang membawanya Thaha , Nabi, sebaik-baik orang yang berbicara”

(Silahkan melihat Diwan Asy-Syaukani hal. 160 cet. Darul Fikr)

  • Asy-Syaikh Husain bin Ghannam juga melantunkan bait kesedihannya dalam qasidah panjang yang mana awalnya:

Hanya kepada Allah kami memohon untuk menyingkap segala kesusahan

Dan tiada tempat memohon selain kepada Allah Al-Muhaimin

Telah tenggelam mataharinya pengetahuan dan petunjuk

Sehingga mengalirlah darah di pipi dan bercucuranlah air mataku

Seorang imam yang manusia tertimpa musibah dengan kehilangannya

Dan terus mengelilingi mereka berbagai musibah menyakitkan dengan perpisahannya

Menjadi kelam segala penjuru negeri sebab kematiannya

Dan menimpa mereka kesulitan mengerikan yang menyedihkan

Sebuah bintang yang jatuh dari ufuk dan langitnya

Sebuah bintang yang terkubur di tanah berlembah sunyi

Bintang keberuntungan yang bersinar cahayanya

Dan bulan purnama yang mempunyai tempat terbit di tempat sebelah kanan

Dan waktu subuh yang sinarnya menerangi manusia

Sehingga kelamnya kegelapan setelah itu menjadi lenyap.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*