Kondisi Sosial Bangsa Arab

kondisi sosial bangsa arab sebelum islam datang

Kondisi Sosial Bangsa Arab

Tradisi dan adat istiadat telah menguasai kehidupan orang Arab. Hingga akhirnya mereka pun memiliki hukum adat tentang hal yang berkaitan dengan derajat dan garis keturunan, serta hubungan antar suku dan antar individu.

Ada 7 kondisi sosial mereka.
  1. Merasa bangga dengan Nasab.

Mereka semangat sekali dalam mempertahankan nasab mereka. Karena itu mereka tidak menjadlin hubungan pernikahan dengan ras lain. Ketika Islam datang, Islam memutuskan persoalan itu semua dan menjelaskan kepada mereka bahwa perbedaan hanya terdapat pada ketakwaan dan amal shalih.

  1. Merasa mulia dengan Syair.

Mereka tergoda oleh perkataan fasih dan gaya bahasa yang luar biasa. Syair mereka itu adalah catatan kebanggaan, kemuliaan nasab, pengetahuan dan emosi mereka. Tidak heran jika idola mereka adalah para orator yang fasih dan para penyair yang terkemuka. Sebuah bait syair bisa meninggikan sebuah suku atau merendahkannya.

  1. Pandangan masyarakat Arab kepada Wanita.

Kami merangkum ada 3 pandangan masyarakat Arab tentang wanita

  • Dahulu wanita dalam pandangan mayoritas suku-suku itu seperti perhiasan yang tidak berharga. Wanita itu bisa diwariskan. Seorang laki-laki juga boleh menikahi istri ayahnya. Hingga Islam datang dan menghapus aturan tersebut. Allah berfirman:

    وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۚ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا

    Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita yang telah dinikahi ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu sangat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan(yang ditempuh).”[QS An-Nisa:22]

  • Dahulu orang-orang arab tidak memberikan warisan kepada anak perempuan, istri atau anak-anak kecil. Mereka hanya mewariskan kepada orang yang memperoleh harta rampasan perang dan ikut berperang dengan mengendarai kuda. Dan itu telah menjadi adat istiadat dalam bangsa Arab, hingga turunlah firman Allah :

    لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ ۚ نَصِيبًا مَفْرُوضًا

    Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu bapak dan kerbatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.”[QS. An-Nisa: 7].

  • Sebagian orang Arab sangat benci jika melahirkan seorang anak perempuan. Karena ia tidak ikut pergi berperang, tidak bisa menjaga kehormatannya sendiri dan tidak bisa mendatangkan uang sebagaimana yang dilakukan oleh anak laki-laki. Dan jika ia dijadikan tawanan ia akan diambil untuk diajak berhubungan intim bergiliran atau dipaksa menjadi pelacur agar memperoleh banyak uang untuk tuannya. Sebagaimana yang telah diceritakan di dalam kitab suci Al-Quran tentang keadaan orang Arab yang melahirkan anak perempuan.

    وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

    يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

    Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan hitamlah (merah padam) mukanya. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan atau akan menguburkannya ke dalam tana (hidup-hidup). Ketahuilah, alangkah buruknya yang mereka tetapkan itu”.[QS An-Nahl: 58-59]

    Kebanyakan mereka lebih memilih untuk menguburnya hidup-hidup. Padahal ia tidak berdosa apa-apa, hanya karena ia seorang bayi perempuan. Allah berfirman :

    وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ

    Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya. Karena dosa apakah ia dibunuh ?”[QS At-Takwir: 8-9]

  • Dan ada sebagian dari orang Arab yang membunuh anaknya karena takut miskin. Maka datanglah Islam menerangi kejahilan mereka. Allah berfirman:

    قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

    Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).”[QS Al-An’am: 151]

    Allah juga berfirman:

    وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

    Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.[QS Al-Isra: 31]

  1. Pernikahan.

Orang Arab mengenal banyak jenis pernikahan. Kami disini akan menyebutkan beberapa pernikahan yang masyhur dari Aisyah binti Abu Bakar telah menyebutkan, dia berkata:

Pernikahan pada masa jahiliyyah ada 4 macam:

  1. Seorang pria menyampaikan pinangan kepada seseorang untuk disampaikan kepada walinya atau putrinya, lalu ia membenarkannya, kemudian menikahkannya. Pernikahan diatas seperti yang terjadi pada hari ini.
  2. Seorang Pria berakata kepada istrinya jika dia telah bersih dari haidnya, ‘Kirimkannlah dia ke si fulan dan mintalah untuk berhubungan intim sampai hamil.’ Suaminya menjauhinya, tidak menyentuhnya sama sekali hingga jelas kehamilannya dari pria yang diminta berhubungan intim sampai hamil. Jika jelas kehamilannya, suaminya akan menggaulinya jika ia menyukainya. Pernikahan ini disebut dengan Istibdha’ .
  3. Berkumpulnya beberapa laki-laki (kurang dari 10 orang) , lalu mereka semua masuk di dalam kamar si perempuan dan menggaulinya. Apabila si perempuan itu telah hamil dan melahirkan, serta berlalu beberapa malam setelah ia melahirkan ia membawa bayinya kepada mereka. Tak seorangpun dari mereka yang mampu menghindari hal itu hingga akhirnya mereka semua berkumpul di tempat si perempuan itu. Perempuan itu pun berkata kepada mereka, ‘Kalian sudah tau yang dahulu kalian perbuat. Sekarang aku telah melahirkan dan itu adalah anakmu wahai Fulan.’ Lalu ia memberi nama sesukanya dan anak itu menjadi miliknya, yang ia tidak bisa menolaknya.
  4. Orang banyak berkumpul lalu mereka semua masuk ke dalam tempat perempuan yang tidak menolak seorang pun yang mendatanginya. Mereka adalah para pelacuryang biasa memasang bendera di dean pintu rumahnya sebagai tanda. Maka siapa yang mengiginkannya akan masuk ke dalamnya. Apabila salah seorang dari mereka hamil dan melahirkan , mereka para lelaki berkumpul di rumah si perempuan. Mereka memanggilanya al-qafah, kemudian mereka memutuskan anak itu menjadi milik orang yang mereka anggap cocok. Maka ia tidak bisa menolak hal itu.”

Ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam diutus dengan membawa kebenaran, beliau menghapus segala bentuk pernikahan jahiliyyah selain pernikahan sah yang dipraktikkan orang-orang sekarang ini.

وَلَا مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ…

“… Dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya…”[QS An-Nisa: 7]

  1. Perceraian.

Dahulu mereka mempraktikkan perceraian. Perceraian mereka tidak dibatasi jumlah tertentu. Sehingga mereka mengucapkan kata-kata cerai tanpa memahami makna perceraian. Hal itu berlangsung hingga islam muncul, hingga Allah menurunkan ayat yang berbunyi:

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ۗ

Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. Setelah itu, boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik…” [QS Al-Baqarah: 229].

Maka islam membatasi jumlah talak serta memberikan suami kesempatan untuk memperbaiki persoalannya dan meninjau istrinya dua kali. Jika ia menalak istrinya yang ketiganya maka terputuslah ikatan suci diantara mereka berdua, hingga sang istri menikah dengan laki-laki lain (dan bercerai dengannya). Dalam Al-Quran disebutkan

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّىٰ تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ ۗ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۗ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.[QS Al-Baqarah: 230]

  1. Peperangan/perampokan.

Dahulu di bangsa Arab sering terjadi peperangan hanya karena alasan sepele. Mereka tidak peduli dengan sengitnya peperangan dan banyaknya korban jiwa dalam membela cita-cita sosial yang mereka kenali, meskipun mereka tidak layak mengubah takdir. Sejarah telah meriwayatkan untuk kita rangkaian dari hari-hari besar bangsa Arab pada masa jahiliyah yang menunujukkan bettapa tinggi semangat perang dari hati orang Arab yang sudah di luar nalar dan pikiran.

Contohnya, Pada hari itu terjadi perang antara Bakar dan Taghlab. Penyebabnya adalah unta betina milik Jurmi, tetangga Basus binti Munqidz, bibinya Jassa bin Murrah. Sebelumnya, Kulaib -majikannya Taghlab- telah menjaga untanya di satu tempat khusus, lalu ditempat itu ia melihatunta betinaitu lalu ia melemparinya, tapi mengenai Jurmi dan Basus. Ketika Jassas melihat hal itu, ia mengambil kesempatan untuk membunuh Kulaib dan ia pun berhasil membunuhnya. Akhirnya, terjadilah perang sengit antarakedua suku itu selama empat puluh tahun.

  1. Ilmu pengetahuan: membaca dan menulis.

Orang-orang Arab bukanlah orang-orang yang ahli baca tulis maupun menghitung seperti orang Yahudi dan Nasrani. Bahkan mereka telah dikuasi oleh kebodohan, buta huruf, tradisi dan terpaku pada masa lalu, meskipun itu batil. Bangsa Arab adalah bangsa yang tidak pandai baca tulis maupun berhitung. Ini adalah sifat mereka pada umumnya. Meskipun mereka buta huruf dan kurang pengetahuannya, mereka dikenal memiliki kecerdasam, kepandaian, perasaan simpati, kepekaan persiapan yang baik dan mempersiakan diri untuk menerima ilmu pengetahuan serta bimbingan yang baik.

Karena itu ketika islam datang, mereka banyak yang menjadi ulama, hakim da ahli fikih. Hilanglah buta huruf dari mereka. Ilmu dan makrifat menjadi karakteristik/ciri khusus mereka. Di antara mereka ada yang pandai dalam bidang ilmu jejak keturunan, yaitu qiyafah. Di antara mereka ada yang menjadi tabib/dokter. Ilmu kedokteran mereka berasal dari eksperimen yang mereka lakukan dari kehidupan dan lingkungan sekitar.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*