Bagaimana hukum menjual barang yang belum dimiliki dan bukan sebagai reseller

Jual beli online

Oleh DR Erwandi Tarmizi

Pada pembahasan sebelumnya kita telah membahas tentang bolehkah jual beli online ? Dan kesimpulan dari pembahasan sebelumnya yaitu hukumnya boleh karena itu termasuk dalam akad ijab dan qabul.

Pada pembahasan kali ini kita akan membahas hukum tentang jual beli online lebih rinci.

Bagiamana jika pemilik situs belum memiliki barang yang akan dijual dan juga bukan Wakil (Agent) dari Pemilik Barang (Reseller) ?

Kita tidak perlu membahas tentang pemilik situs yang memiliki barang untuk dijual atau sebagai wakil agen (reseller). Karena hukumnya adalah halal dan tidak ada hal yang mengubah hukumnya menjadi haram. Ada syarat-syarat yang harus diikuti agar tidak terjebak dalam gharar yaitu spesifikasi barang harus dijelaskan secara rinci jika tidak maka hukumnya menjadi haram karena terdapat unsur-unsur gharar.

Para ulama sepakat bahwa tidak sah hukum jual-beli jika pemilik situs tidak memiliki barang-barang yang ia tampilkan pada situsnya.

Sebagai ilustrasi: Ada 3 pihak yang terlibat. Si A adalah pembeli, Si B adalah penjual online dan Si C adalah pemilik barang. Si A membeli suatu barang X kepada si B, lalu si B menghubungi si C dan menanyakan tentang barang yang dipesan oleh si A. Jika ada si B meminta si A untuk mentransfer uang ke rekening si B, barulah si B membeli barang kepada si C dan meminta si C untuk mengirimkan ke alamat si A.

Akad jual-beli ini tidak sah, karena ia menjual barang yang bukan miliknya. Akad ini mengandung unsur gharar, disebabkan – pada saat akad berlangsung- penjual belum dapat memastikan apakah barang dapat ia kirimkan kepada pembeli atau tidak?

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam radhiyallahu anhu, ia berkata,

Wahai Rasulullah, seseorang datang kepadaku untuk membeli suatu barang, kebetulan barang tersebut sedang tidak kumiliki, apakah boleh aku menjualnya kemudian aku memberli barang yang diinginkannya dari pasar? Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Jangan engkau jual barang yang belum engkau miliki!” (HR. Abu Daud, no. 3505; dinilai sahih oleh Al-Albani).

Untuk menghindari hal diatas dan agar tetap terjadi jual-beli yang sah.

Solusi

a. Beritahu setiap calon pembeli (A) bahwa penyediaan aplikasi permohonan barang bukan berarti ijab dari penjual (B).

b. Setelah calon pembeli (A) mengisi aplikasi dan mengirimkannya, pemilik situs (B) tidak boleh menerima langsung akad jual-beli. Akan tetapi ia beli terlebih dahulu barang tersebut dari pemilik barang sesunguhnya (C) dan ia terima, kemudian baru ia jawab permohonan pembeli dan memintanya untuk mentransfer uang ke rekening miliknya. Lalu barang dikirimkan kepada pembeli (A).

c. Untuk menghindari kerugian akibat pembeli via internet (A) membatalkan keinginannya untuk membeli selama masa tunggu sebaiknya penjual di situs mensyaratkan kepada pemilik barang sesungguhnya bahwa ia berhak mengembalikan barang selama tiga hari sejak barang dibeli, ini yang dinamakan khiyar syarat.

Jika langkah-langkah di atas diikuti maka jual-belinya menjadi sah dan keuntungannyapun menjadi halal. Wallahu a’lam

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*