Bagaimanakah Hukum Jual-Beli Online Dalam Islam ?

Jual beli online

Gharar dalam muamalat kontemporer

Oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi

Imam Nawawi berkata, “Larangan jual-beli gharar merupakan salah satu dasar yang sangat prinsip dalam pembahasan muamalat, gharar terdapat dalam banyak bentuk muamalat.”

Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Nawawi bahwa gharar sering terdapat dalam muamalat, sama juga halnya dengan muamalat kontemporer tidak terlepas dari  gharar dengan porsi yang berbeda-beda.

Terkadang gharar tersebut merusak keabsahan sebuah akad muamalat dan terkadang tidak karena bisa jadi kadarnya dalam akad relatif kecil atau akadnya adalah hibah.

Berikut ini beberapa muamalat kontemporer yang mengandung gharar. Sebagian bentuknya diharamkan oleh seluruh para ulama dan sebagian lagi hukumnya diperselisihkan.

Jual beli Barang dan Jasa melalui Internet

Kemajuan teknologi informatika juga merambat kepada kemajuan ke perdagangan. Dulu, sebuah transaksi hanya dapat dilakukan dengan cara bertatap muka. Sekarang dengan adanya internet jarak tidak menjadi masalah untuk melakukan jual-beli.

Namun bagaimanakah syariat menyikapinya ?

Para ulama sepakat, transaksi yang disyaratkan tunai tidak boleh dilakukan melalui telepon dan internet, seperti jual-beli emas dan perak. Karena itu tidak sah membeli emas/perak melalui internet dengan cara transfer uang ke rekening penjual, kemudian emas diterima pembeli beberapa waktu setelah uang ditransfer. Transaksi ini termasuk riba nasi’ah.

Dari Ubadah abin Shomit, Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“(jual beli) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir(gandum kasar) dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus sama beratnya dan tunai.”—HR Muslim

Berdasarkan hadits tersebut, seperti kita ketahui bersama, barang ribawi ada enam: emas, perak, kurma, gandum kasar, gandum halus, dan garam. Keenam barang ini dikelompokkan menjadi dua berdasarkan illatnya (fungsinya). Emas dan perak dianggap satu kelompok, karena fungsinya sama: alat tukar. Sedangkan empat sisanya masuk kelompok dua, dengan fungsi sama: bahan makanan. Tukar- menukar barang ribawi yang sama fungsinya, seperti emas dengan perak, atau uang, harus dilakukan tunai. Jika ada penundaan penyerahan, terjebak dalam larangan riba nasi’ah.

untuk mempermudah pemahaman kita ilustrasikan: 

A memiliki tabungan dalam bentuk rupiah di salah satu bank di Indonesia. Pada saat A berada di luar negeri A membutuhkan uang dollar Amerika. Lalu A menarik uang tunai dalam bentuk dollar menggunakan kartu ATM-nya pada salah satu anjungan milik bank di negeri ia berada.

Hal ini dibolehkan dan tidak termasuk riba ba’i, karena yang terjadi adalah penukaran uang rupiah dengan dollar secara tunai dengan harga kurs di hari itu.

Hukum di atas berdasarkan keputusan Majma’ Al Fiqh Al Islami (divisi fikih OKI) No. 52 (3/6) tahun 1990,

setelah menjelaskan kaidah dalam transaksi menggunakan sarana komunikasi modern, disebutkan, “Kaidah-kaidah yang telah disebutkan di atas tidak dapat diterapkan untuk sharf ( tukar-menukar mata uang atau jual beli emas dan perak) karena disyaratkan harus serah-terima barang dan uang secara tunai.”

Untuk barang yang tidak disyaratkan serah terima tunai dalam jual-belinya, yaitu seluruh jenis barang, kecuali emas/perak dan mata uang maka jual-beli melalui internet dapat di takhrij dengan jual-beli melalui surat menyurat. Adapun jual-beli telepon merupakan jual beli langsung dalam akad ijab dan qabul.

Bila transaksi berlangsung dalam satu waktu sedangkan kedua belah pihak di tempat yang berjauhan, hal ini dapat diterapkan pada transaksi telepon ataupun telepon seluler, maka ijab dan qabul yang terjadi adalah langsung seolah-olah keduanya berada dalam satu tempat.

Dalam transaksi menggunakan internet, penyediaan aplikasi permohonan barang oleh pihak penjual di situs merupakan ijab dan pengisian serta pengiriman aplikasi yang telah diisi oleh pembeli merupakan qabul. Adapun barang hanya dapat dilihat gambarnya serta dijelaskan spesifikasinya dengan lengkap, dengan penjelasan yang dapat mempengaruhi harga jual barang.

Karena fisik barang yang diperjual-belikan tidak dapat disaksikan langsung hanya sebatas gambar dan penjelasan spesifikasinya, maka jual-beli ini dapat ditakhrij dengan ba’i al ghaib ala ash shifat (jual beli yang tidak dihadirkan pada majelis akad atau tidak disaksikan langsung sekalipun hadir dalam majelis, seperti: beli barang dalam kardus/kotak, yang hanya dijelaskan spesifikasinya melalui kata-kata).

 

Stay tune update untuk mendapatkan informasi terbaru

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*