Bolehkah menggunakan cuka dalam makanan

Advertisment

hukum menggunakan cuka yang berasal dari alkohol

Bagiamana Hukum Mengkonsumsi Cuka yang terbuat dari Alkohol.

Para ulama bersepakat bahwa bilamana khamar berubah menjadi cuka dengan sendirinya tanpa ada campur tangan manusia, cuka tersebut hukumnya menjadi halal (suci).

Akan tetapi para ulama berbeda pendapat bila perubahan tersebut karena ada campur tangan manusia.

Pendapat pertama :

Dalam mazhab Hanafi proses tersebut dibolehkan dan hasil yang telah menjadi wujud lain setelah diporses hukumnya suci, boleh dikonsumsi.

Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu alihi wa sallam saat beliau meminta lauk campuran roti kepada salah seorang istrinya, maka istrinya menjawab, “Yang ada hanyalah cuka”. Beliau bersabda,

نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ

Lauk (campuran makan roti) yang paling enak adalah cuka, Lauk (campuran makan roti) yang paling enak adalah cuka”. (HR Muslim)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam sangat memuji cuka, padahal cuka terbuat dari khamar. Dan beliau tidak merinci bahwa cuka yang beliau maksud adalah cuka yang berubah dari khamar secara alami atau bukan. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa boleh hukumnya memproses khamar untuk menjadi zat lain yang halal.

Tanggapan:

Dalil ini tidak kuat, karena mungkin saja yang dimaksut Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah cuka yang berubah wujud secara alami, karena Allah telah mewajibkan untuk menjauhi khamar, maka proses perubahan khamar yang dilakukan dengan sengaja berarti mendekati khamar yang merupakan sebuah pelanggaran terhadap larangan Allah.

Pendapat Kedua:

Dalam mazhab Syafi’i, Hanbali dan sebuah pendapat dalam mazhab Maliki bahwa memproses khamar menjadi zat lain, hukumnya haram.

Dalil ini berdasarkan hadis Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam riwayat Anas bin Malik ketika ditanya tentang bolehkah khamar diproses menjadi cuka? Maka beliau menjawab, “tidak”. (HR Muslim).

Dalam hadis lain, Abu Thalhah bertanya kepada Nabi shalallahu alihi wa sallam tentang khamar anak yatim yang merupakan warisan orang tuanya yang telah meninggal Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tumpahkan khamar itu!”.

Abu Thalhah berkata, “Bolehkah saya proses menjadi cuka?”.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak”. (HR Abu Daud. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani).

Dalam sebuah atsar yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu anhu bahwa beliau pernah berkata “Janganlah kalian makan cuka yang terbuat dari khamar kecuali perubahan terjadi secara alami”. (Atsar ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqqi).

Hadis dan Atsar diatas sangat tegas menjelaskan larangan Nabi shallallahu alihi wa sallam untuk memproses khamar menjadi cuka sekalipun khamar itu milik anak yatim. Dan setiap larangan menunjukkan bahwa hukum yang dilarang adalah haram.

Wallahu a’lam, pendapat yang tetap menganggap najis cuka yang diproses dengan cara haram, dari tinjauan sadduzzari’ah1 lebih kuat dan pantas diterapkan Umar dalam kebijakannya sebagai khalifah, agar tindakan haram memproses khamar menjadi cuka tidak dilakukan orang untuk meraup keuntungan duniawi. Maka sebagai pengambil keputusan dalam sebuah negara patut untuk mengikuti pendapat ini.

Adapun dari tinjauan dalil pendapat yang menghalalkan cuka yang diproses dari khamar lebih kuat, karena memang khamar telah berubah menjadi cuka dan cuka hukumnya halal, yang diharamkan adalah proses pembuatannya.

1Sadduzzari’ah, yaitu melarang sesuatu hal yang hukumnya boleh, tetapi ada kemungkinan hal tersebut dapat mengantarkan kepada hal yang haram

Baca juga tentang gharar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*