Gharar Harta Haram

gharar harta haram

Gharar

Kemarin kami telah membahas tentang bolehkah makan lele pada kesempatan kali ini kami akan membahasApa itu gharar ? terkadang kita mendengar istilah gharar ketika melakukan jual beli. oleh karena itu kami akan membahas tentang gharar.

Definisi:

Gharar berasal dari bahasa Arab yang berarti: risiko, tipuan dan mentauhkan diri atau harta ke jurang kebinasaan.

Menurut ahli para fiqh, gharar berarti: jual beli yang tidak jelas kesudahaannya . Sebagian ulama mendefinisikannya dengan: jual-beli yang konsekuensi antara ada ada dan tidak.

Misalnya:

Si A menjual barang ke B di dalam kotak dengan harga Rp 100.000,00. Si B tidak mengetahui barang dalam kotak tersebut.

Akad diatas mengandung unsur untung-rugi (spekulasi). Bila salah satu phak mengalami keuntungan dan pihak lain mengalami kerugian inilah hakikat gharar.

Ruang Lingkup Gharar dalam jual beli

Gharar dalam akad jual beli pada 3 hal :

  1. Pada Akad
  2. Pada Objek Akad
  3. Pada Waktu

Gharar dalam Akad

Nabi Muhammad shallallalhu alaihi wa sallam bersabda diriwiyatkan dari Abu Hurairah

نَهَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِيْ بَيْعَةٍ

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dua jual-beli dalam satu akad.”

Misalnya:

Dua akad jual beli dalam satu akad. Seperti Si X menjual motor Z kepada si Y, “ Saya jual motor ini kepada anda, kalau tunai harga 10 juta rupiah, kalau kredit selama 1 tahun seharga 12 juta rupiah.” Lalu Y tanpa menentukan akad yang mana ia inginkan -apakah tunai/kredit- mengatakan, “Saya ingin membeli motor ini.”

Akad diatas mengandung gharar tidak jelas jual-beli mana yang diinginkan oleh pembeli.

Gharar dalam Objek Akad

Yang dimaksut gharar dalam objek akad yaitu barang dan harga.

Gharar pada barang dan harga disebabkan beberapa hal:

a. Fisik barang tidak jelas.

Misalnya:

Si A menjual barang di dalam kotak ke B dengan harga Rp 100.000,00. Si B tidak mengetahui barang dalam kotak tersebut.

b. Sifat barang tidak jelas.

Misalnya:

Penjual berkata “ Aku jual kepadamu satuunta yang berada di gurun dengan harga 150 juta”. Dan pembeli belum pernahmelihat unta tersebut dan tidak tahu ciri-cirinya serta penjual pun tidak menjelaskannya.

c. Ukuran barang tidak jelas.

Misalnya:

Penjual berkata “Aku menjual sawah ini kepadamu dengan harga 10 jt rupiah”. Tanpa merincikan ukuran bagian yang akan dijual.

  1. Barang bukan pemilik penjual

Misalnya:

Seorang calo tanah melalakukan transaksi jual-beli tanah dengan pihak ke tiga tanpa mendapatkan izin dari pemilik tanah.

Jual beli ini dilarang Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan dari Hakim bin Hizam radhiyallahu anhu ia berkata,

قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ يَأْتِينِى الرَّجُلُ فَيُرِيدُ مِنِّى الْبَيْعَ لَيْسَ عِنْدِى أَفَأَبْتَاعُهُ لَهُ مِنَ السُّوقِ فَقَالَ : لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

Wahai, Rasulullah! Seseorang datang kepadaku untuk membeli suatu barang, kebetulan barang tersebut sedang tidak kumiliki, apakah boleh aku menjualnya kemudian aku membeli barang yang diinginkan dari pasar ? Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab,” Jangan engkau jual barang yangh belum engkau miliki!”.(HR Abu Daud. dishahihkan oleh Albani)

e. Barang yang telah dibeli penjual namun belum diterima dari penjual pertama.

Misalnya:

A membeli motor dari B, sebelum A menerima motor dari B, A menjualnya kepada C dan A menerima uang dari C dan meminta B menyerahkan langsung motor ke C.

Jual beli ini dilarang oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan dari Hakim bin Hizam radhoyallahu anhu, ia berkata,

Wahai Rasulullah, saya sering melakukan jual-beli, apa jual-beli yang hala dan yang haram? Nabi bersabda, “ Wahai anak saudaraku! Bila ingin membeli sebuah barang janganlah engkau jual sebelum barang tersebut engkau terima”. (HR. Ahmad, dihasankan oleh Imam Nawawi)

f. Barang tidak dapat diserah-terimakan.

Misalnya :

Seseorang memiliki sebuah barang di luar negeri dan ia menjualnya di Indonesia, Ini termasuk jual-beli gharar karena barang tersebut kemungkinan tidak diizinkan masuk ke Indonesia.

g. Gharar pada harga disebabkan penjual tidak menentukan harga.

Misalnya:

Penjual berkata, “Aku jual mobil ini kepadamu dengan harga sesukamu”. Lalu mereka berpisah dan harga belum ditetapkan oleh kedua belah pihak.

Ini termasuk gharar, karena kemungkinan harga yang ditetapkan pembeli lebih tinggi dari yang diinginkan penjual demikian penjual beruntung dan pembeli rugi begitu juga sebaliknya.

Termasuk dalam kategori harga yang tidak jelas menurut mayoritas para ulama membeli barang atau jasa dengan harga yang berlaku secara umum di pasar, seperti membeli jasa angkutan umum dengan tarif  yang telah ditetapkan oleh pihak yang berwenang atau membeli barang dengan harga pasar seperti makan di sebuah restaurant tanpa mengetahui harga makanan tersebut dan diketahui pada saat membayar di kasir. Karena akad ini mengandung gharar.

Imam Ahmad ketika ditanya tentang akad jual beli bahwa pembeli berkata, “Aku beli arang ini seharga yang engkau jual kepada orang lain,” ia berkata, “Jual beli ini tidak boleh”.

Namun sebagian para ulama mazhab Syafi’iyah membolekan akad jual beli dengan penetapan harga pasar . Pendapat ini didukung oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim.

Diantara dalil pendapat ini:

  • Hukum asal muamalat adalah mubah. Adapun gharar yang terjadi dalam akad ini bukanlah ghjarar yang merusak akad, karena pada saat melangsungkan akad pejual dan pembeli telah mengetahui harga pasar barang tersebut. Walaupun akan terdapat perbedaan harga dari perkiraan mereka berdua, namun biasanya penjual memberitahukan perubahan harga tersebut.
  • Yang menjadi persyaratan dalam jual-beli adalah keridhaan dari kedua belah pihak,dalam akad ini mereka telah saling ridha untuk membuat akad sesuai dengan harga pasar atau harga yang ditentukan pihak berwenang.
  • Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa akad seperti ini dilakukan oleh kaum muslimin dari masa ke masa di berbagai neger dan buila terdapat ketidak-ridhaan mereka memiliki hak khiyar.
  • Ijma’ para ulama bahwa akad nikah yang tidak sebutkan maharnya maka magarnya sesuai dengan nilai mahar umumumnya (harga pasar). Dari ijma’ ini dapat dianalogikan bahwa akan jual-bneli yang tidak disebutkan harganya sesuai dengan nilai pasar barang tersebut.

Wallahu A’lam, dalam hal ini pendapat yang membolehkan jual-beli dengan harga pasar adalah pendapat terkuat.

Gharar Pada Waktu Pembayaran

Misalnya :

Penjual berkata, “Saya jual motor ini dengan harga 5 juta rupiah dibayar kapan anda mampu. Jual-beli ini dilarang Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ ، وَكَانَ بَيْعًا يَتَبَايَعُهُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ ، كَانَ الرَّجُلُ يَبْتَاعُ الْجَزُورَ إِلَى أَنْ تُنْتَجَ النَّاقَةُ ، ثُمَّ تُنْتَجُ الَّتِى فِى بَطْنِهَا

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang menjual habalul habalah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Umar radhiyallahu anhuma menjelaskan maksud jual-beli habalul habalah , yaitu: menjual suatu barang dengan cara tidak tunai dengan jangka waktu pembayaran hingga janin dari janin yang ada di perut unta yang hamil ini lahir. Waktu pembayaran utang dikaitkan dengan waktu kelahiran anak dari janin unta yang sedang bunting. Kalau saja waktu kelahiran janin unta yang di perut tidak bisa dipastikan apalagi waktu kelahiran anak dari janin itu elak. Ketidak jelasan waktu ini termasuk gharar. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama mazhab.

Tetapi menurut Ibnu Taimiyah dan diperkuat oleh Ibnu Utsaimin rahimahumullah boleh menyatakan pembayaran dengan ucapan “Dibayar kapan mampu”. Bedasarkan perilaku Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika membeli 2 lembar kain dari orang Yahudi dan dibayar bila mampu.  (HR Tirmizi )

Stay tune tentang gharar insya allah kami akan mengulasnya lebih rinci.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*