Bolehkah Makan Lele ?

bolehkah makan lele

Bolehkah Makan Lele ?

 

Kemarin kami telah membahas hukum menjual pupuk kandang dan sekarang kami akan membahas tentang hewan jallalah. Apa itu hewan jallalah ? hewan jallalah adalah hewan yang memakan kotoran. Sebagian orang di Indonesia memelihara lele dengan diberi pakan tinja. Tahukah anda bahwa ikan yang diberi pakan tinja termasuk hewan jallalah.

Di pedesaan banyak kolam-kolam ikan yang berfungsi ganda, sebagai tempat pemeliharaannya  dan sebagai tempat pembuangan tinja sehingga dapat dipastikan sebagian besar makanannya  berasal dari najis.

Ada dua pendapat tentang kehalalan hewan ini :

 

  • Pendapat pertama: ulama mazhab Hanbali mengharamkan hewan tersebut karena hewan ini tercemar najis, dengan demikian bila dijual maka hukum jual belinya tidak sah dan uang hasil penjualan hewan jallalah merupakan harta haram

    Pendapat ini bersandar pada hadist Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata :

    .نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا

    “ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang memakan hewan jallalah dan (meminum ) susunya”. (HR. Abu Daud dan Nasa’i. Hadits ini dishahihkan oleh Nawawi dan Ibnu Daqiqil Ied).

    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang memakan daging dan susu dari hewan jallalah dikarenakan tercemar oleh najis, jika dimakan manusia berarti telah memakan najis (haram) dan bila dijual maka hukum jual belinya adalah harta haram.
  • Pendapat kedua :  Pendapat Ulama mazhab Hanafi dan Syafi’i hewan jallalah hukumnya halal, karena hukum asal setiap benda halal kecuali terdapat larangannya.

    Hadis Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang melarang memakan daging dan air susu jallalah bukan disebabkan daging dan air susu hewan tersebut tercemar najis melainkan dikarenakan sebab lain. Karena kaedah perubahan wujud, yaitu suatu wujud barang yang merupakan perubahan dari wujud lainnya maka yang dilihat adalah wujud baru. Contoh: hukum asal hewan ternak halal, adapun pakan najis telah berubah menjadi daging dan air susu, sedangkan daging dan air susu hukumnya halal.

    Kesimpulan, larangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam tersebut hukumnya makruh saja. Daging serta air susu hewan tersebut  boleh dimakan dan diminum, juga boleh dijual dan hasil penjualannya halal.

 

Bonus

Cara Membersihkan Hewan Jallalah :

Para ulama bersepakat cara membersihkannya yaitu di karantina terlebih dahulu dengan diberi pakan yang tidak mengandung najis.

Para ulama berbeda pendapat tentang lamanya hewan itu dikarantina.

Ada dua pendapat tentang hal itu:

  1. Ada yang berpendapat pada perilaku Ibnu Umar radhiyallahu anhuma ” bila ia ingin memakan hewan jallalah beliau mengkarantinanya selama 3 hari.” (Atsar ini diriwayatkan oleh Abdul Razak dan dishahihkan oleh Albani).

     

  2. Ada juga yang berpendapat bahwa jika ikan atau ayam dikarantina selama 3 hari, sedangkan sapi dan unta selama 40 hari, pendapat ini merujuk pada hadist Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang memakan unta jallalah hingga dikarantina terlebih dahulu selama 40 hari. Akan tetapi hadits ini didhaifkan oleh Al-Zahabi.

 

Pendapat yang terkuat tentang masalah ini tidak ditentukan oleh lamanya waktu dikarantina, karena tujuan dari karantina adalah untuk menghilangkan bau tidak sedap pada hewan tersebut, jika bau sudah hilang maka hewan itu siap dikonsumsi. (Wallahu a’lam).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*