Menjual pupuk dari Tinja

sedot wc tinja najis

Menjual Pupuk yang Berasal dari Tinja

Banyak orang ketika bekerja asal-asalan yang penting mendapatkan uang tanpa memikirkan apakah itu halal apa haram ? Apakah Allah meridhoi atau memurkai ?

Bukankah Rasullullah telah bersabda:

ثم ذكر رجل يطيل السفر أشعث اغبر يمد يده إلى السماء يا رب يا رب ، ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسة حرام وغذي بالحرام فإنى يستجاب له

Ada seseorang laki-laki yang berada dalam perjalanan jauh, berambut kusut dan berdebu dia mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Rabb Wahai Rabb” dan makanan, minuman dan pakaiannya berasal dari haram, maka bagaimana doanya bisa dikabulkan ?

Di kota-kota yang berpenduduk padat masalah najis kotoran manusia (tinja) menjadi masalah serius. Jika hal ini dibiarkan akan berdampak buruk bagi manusia sendiri. Sehingga ada sebagian orang mencari nafkah dengan mengambil tinja dan mengolahnya menjadi pupuk.

Hukum menjual najis sekalipun telah diolah tetap diharamkan oleh Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam

إن الله ورسوله حرم بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام فقيل يا رسول الله أرأيت شحوم الميتة فإنها يطلى بها السفن ويدهن بها الجلود ويستصبح بها الناس فقال لا هو حرام ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم عند ذلك قاتل الله اليهود إن الله لما حرم شحومها جملوه ثم باعوه فأكلوا ثمنه

Sesungguhnya Allah telah mengharamkan menjual khamr, bangkai, babi dan berhala.” Seorang sahabat bertanya, “Bagaimana dengan gajih bangkai yang dicairkan lalu digunakan untuk mencat perahu, dioleskan ke kulit (pelembab kulit) dan sebagai minyak lampu ?” Nabi bersabda, “Hukum menjualnya adalah haram. Kemudian beliau melanjutkan : Allah telah mengutuk orang Yahudi karena Allah mengharamkan mereka memakan gajih hewan ternak, lalu gajih tersebut mereka cairkan dan mereka jual, kemudian uang hasil penjualannya mereka gunakan untuk membeli makanan.” (HR. Muttafaqun Alaih)

Kita bisa melihat hadist di atas tentang seorang sahabat yang bertanya tentang hukum menjual bangkai walaupun sudah diolah menjadi bentuk lain, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengharamkan dan menyamakan perbuatan tersebut dengan perbuatan orang Yahudi.

Namun bagaimana hukumnya jika pihak pengelola meminta upah kepada pihak yang membutuhkannya tanpa mengambil keuntungan ?

Wallahu a’lam hukumnya boleh, karena menarik biaya pengelolahan itu tidak sama dengan akad jual beli. Dan itu termasuk akad ijarah (upah/jasa). Pada akad ini tidak ada persyaratan bahwa objek harus dalam keadaan suci.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*